Travelling ke Bandung Demi Bertemu dengan Si Hijau by Suci Rachmawati

0
398

Halo! Perkenalkan, namaku Suci. Aku berasal dari Bekasi, Kabupaten Bekasi lebih tepatnya. Kali ini aku ingin menceritakan tentang pengalamanku jalan-jalan atau travelling ke Bandung demi bertemu dengan yang hijau alias pemandangan alam hehe.

Bulan September lalu, tepatnya pada tanggal 10 September 2018 aku menyempatkan diri pergi ke Bandung bersama Gema, teman kuliahku dulu. Pertanyaannya, kenapa pilih Bandung? Ya, aku pilih Bandung karena Bandung adalah salah satu daerah yang masih seksi akan keindahan alam yang dimilikinya. Selain itu, Bandung juga mudah dikunjungi sekalipun dalam waktu yang singkat.

Well, singkat cerita aku pergi ke Bandung menggunakan kereta api Argo Parahyangan tepat pukul 08.21 WIB dari Stasiun Bekasi, lalu janjian untuk bertemu dengan Gema di Stasiun Bandung sekitar pukul 11.00 WIB. Setibanya aku di Stasiun Bandung, Gema menjemputku dengan menunggangi motor KLX kesayangannya. Dan disinilah cerita dimulai, let’s go!

———————————————————————————————————————

Siang itu, cuaca Kota Bandung cukup panas menurutku. Namun, aku tidak gentar dan tetap pergi travelling bersama Gema dengan menggunakan motor KLXnya. Destinasi pertama kami adalah Curug Layung yang berada di daerah Kabupaten Bandung Barat. Perjalanan menuju ke Curug Layung lumayan menguras tenaga dan kesabaran dikarenakan kami sempat tersasar, yah maklum saja selama travelling kami hanya mengandalkan petunjuk arah dari Google Maps. Perjalanan dari Kota Bandung menuju Curug Layung membutuhkan waktu sekitar hampir 2 jam (itu sudah termasuk waktu kami tersasar lho ya hehe). Setibanya di pintu masuk Curug Layung, kami membayar biaya retribusi dan parkir kendaraan sebesar Rp.25.000,- untuk dua orang dengan satu motor. Setelah itu, baru lah kami mulai memasuki kawasan tersebut. Kawasan Curug Layung ternyata memiliki jajaran pohon pinus yang sangat indah dan ada pula kawasan camping ground bagi mereka yang ingin bermalam disana. Belum lama kami menapaki kawasan pohon pinus, Gema tiba-tiba saja nyeletuk:

 Aduh Ci, ini mah kayanya bakalan capek yah. Tuh lihat, jalannya aja begini.”

“Iya ya, kayanya curugnya masih lumayan jauh deh ini jalan keatas.” Sahutku.

Ya, jarak dari kawasan pohon pinus menuju Curug Layung memang lumayan jauh dan menguras tenaga terlebih lagi track-nya tidak selalu landai. Namun, hal tersebut justru membuatku semakin penasaran akan keindahan yang disajikan ditempat ini. Dan ternyata benar! Tak lama berjalan kami disuguhkan dengan pemandangan bukit berwarna hijau yang sangat indah, luas dan menenangkan jiwa. Spontan kami pun langsung merogoh kamera masing-masing dan berswa foto untuk mengabadikan momen ini, karena pemandangan ini tidak akan bisa kudapatkan di Bekasi atau pun Jakarta. Sungguh tenang, menikmati hijaunya bukit sembari diiringi dengan nyanyian angin yang menemani kami.

Setelah puas berfoto-foto kami pun melanjutkan perjalanan. Untuk meminimalisir rasa lelah dalam menapaki kawasan pohon pinus kami hanya berjalan santai dan saling bercerita. Tak terasa, kami pun sampai di Curug Layung. Curug Layung ternyata tidak terlalu luas dan tidak terlalu jernih airnya, namun kami benar-benar menikmati tempat tersebut. Kenapa? Karena suasananya benar-benar tenang dan pada saat itu tidak terlalu ramai dengan pengunjung. Tempat ini cocok untuk terapi otak dari hiruk pikuknya kota Jakarta. Lalu dengan sigap aku langsung mengambil posisi untuk duduk didekat air yang mengalir lalu merendamkan kakiku didalamnya agar terasa segar. Sedangkan Gema mengambil posisi dengan duduk disebelahku dan kami kembali melanjutkan cerita sambil menikmati keindahan ini.

Setelah merasa cukup segar dan rasa lelah kami hilang, kami pun turun dan melanjutkan perjalanan menuju kawasan Kebun Teh yang berada didekat perbatasan wilayah Subang. Perjalanan dari Curug Layung menuju Kebun Teh memakan waktu sekitar satu jam. Setibanya di Kebun Teh, kami membayar biaya retribusi dan parkir sebesar Rp. 15.000,-. Ternyata saat itu sedang ramai pengunjung, namun beruntung kebun tersebut sangat luas sehingga kami masih dapat berkeliling menikmati sore hari dititik yang agak tinggi dan tidak terlalu ramai sehingga kami dapat bebas berswa foto haha.

Tak berhenti sampai disitu, kami melanjutkan jalan-jalan untuk mengelilingi Kota Bandung pada malam harinya. Kami berkeliling disekitar Alun-Alun Kota Bandung dan Jalan Asia Afrika. Malam itu kawasan tersebut sangat ramai karena bertepatan dengan Tahun Baru Islam 1439 H sehingga banyak masyarakat yang mengikuti pawai obor berkeliling kawasan tersebut dan juga sedang ada Festival Muharam didekat Jalan Asia Afrika.

 

Aku dan Gema pun berkeliling melihat-lihat di Festival Muharam sembari mampir makan malam disalah satu warung makan yang ada disana. Setelah itu, kami berkeliling untuk melihat berbagai macam cosplay yang ada disekitar jalan tersebut. Sebagai penutup, sebelum mengakhiri perjalanan kami di Bandung hari itu, kami juga sempat berkeliling di area Alun-Alun Kota Bandung. Namun sayang, area dalam Alun-Alun sedang diperbaiki sehingga kami tidak dapat masuk kedalamnya. Walaupun demikian, aku tetap senang karena akhirnya aku bisa “melarikan iri” sejenak dari ramainya dan padatnya Ibu Kota ke tempat yang lebih tenang dan mengesankan.

 

Terima kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here