Sensasi Travelling ke Bekasi by Tobiaz Nathanael

0
227

7 juli 2017 merupakan pertama kalinya gue melakukan travelling dan tempat yang gue pilih untuk travelling pertama gue adalah air terjun curug parigi di Bekasi. Tentunya gue melakukan travelling ini tidak sendirian tetapi bersama kedua temen gue yang baru pertama kali travelling juga. Sebagai traveler pemula banyak hal baru dan enggak biasa yang harus gue dan kedua sahabat gue lalui seperti enggak makan selama travelling, kecapean, dan masih banyak hal lain. Mau tau apalagi yang harus gue lewati sebagai traveler pemula. Berikut ceritanya.

 

 

Perjalanan gue dimulai pukul 7 pagi dari rumah Virgo salah satu sahabat gue yang rumahnya udah gue anggap kayak rumah sendiri. Di rumah Virgo tempat berkumpul kami untuk berangkat  menuju stasiun serpong menggunakan motor bonceng tiga kayak cabe-cabean. Awalnya sih berangkat ke stasiunnya mau pakai taxi online karena kalau naik motor ada resiko kena tilang polisi tetapi karena budget yang pas-pasan memaksa kami harus naik motor. Tapi untungnya di tengah jalan gue dapat ide agar enggak ditilang polisi yaitu dengan mesen ojek online kalau udah deket sama pos polisi biasa nilang kendraaan. Pas udah deket sama pos polisi gue buru-buru pesen ojek online dan untungnya biaya gojeknya murah hanya 15 ribu. Lebih untung lagi dapat gojek yang baik karena dia justru ngajak gue lewat jalan belakang untuk ke stasiun supaya tidak ketemu polisi.

Akhirnya kami tiba di stasiun serpong dan kami langsung membeli tiket kereta ke Bekasi. Di dalam kereta dua temen gue sangat senang karena itu adalah pertama kalinya mereka naik kereta. Setelah 2 jam berdiri di kereta akhirnya kami tiba di Bekasi barat. Sesampainya disana gue  minta tolong Bene untuk mencari tau keberadaan curug parigi di google maps. Setelah dapat lokasinya gue langsung ikutin petunjuk arahnya menggunakan angkot dan ada hal yang baru gue tau ternyata untuk ke lokasi air terjun curug parigi harus naik angkot 3 kali dengan nomor yang berbeda. Gue bersama kedua teman gue pun naik angkot yang pertama sambil lihat google maps apakah jalannya angkot searah dengan petunjuk arah di google maps. Awalnya si angkot sesuai petunjuk arah tapi ketika di salah satu perempatan angkot justru lurus dan tidak belok kanan ke arah yang ditunjukkan oleh google maps. Karena tidak belok kanan akhirnya gue dan kedua teman gue turun dari angkot yang pertama dan naik angkot yang kedua. Pas di angkot kedua ini ada kejadian lucu sekaligus ngeselin yaitu saat sebelum naik abangnya bilang “ayo langsung jalan” eh pas giliran kami naik angkotnya malah enggak jalan dan nyari penumpang dulu, saat itulah gue dan kedua teman gue merasa ditipu oleh supir angkot. Kira-kira 30 menit “ngetem” akhirnya si angkot jalan juga. Selama perjalanan di angkot ini gue dan kedua sahabat gue mulai panik karena sisa uang yang ada jika digabungkan hanya tinggal 70 ribu yang berarti ada kemungkinan uang tidak cukup untuk pulang dan makan karena biaya angkot saja sekali naik 15 ribu, jika masih harus naik angkot sekali lagi 15 ribu lagi ditambah lagi untuk pulang harus 3 kali naik angkot yang akan menghabiskan 15×3 yaitu 45 ribu. Jadi, total kami akan mengeluarkan 60 ribu dan uang yang tersisa maka hanya tinggal 10 ribu yang kemungkinan hanya untuk biaya kami masuk curug parigi. Itupun kalau perhitungannya benar. Karena terlalu memikirkan biaya, gue dan kedua teman gue sampai lupa lihat arah google maps dan tidak sadar kalau angkot sudah jauh tidak searah dengan lokasi air terjun. Gue dan kedua teman gue pun langsung turun dari angkot. Saat mau naik angkot yang ketiga gue dan kedua teman gue ragu-ragu untuk melanjutkan perjalanan ini bahkan sempat berencana untuk kembali ke Tangerang.

Di tengah kebingungan itu gue coba tetap tenang dan memikirkan jalan keluar. Satu ide “gila” pun terpikirkan oleh gue sebagai jalan keluar yaitu melanjutkan perjalanan ke air terjun yang masih sekitar 10 km lagi dengan berjalan kaki di siang hari. Anehnya kedua teman gue setuju melakukan ide “gila” itu meskipun harus berjalan bersama matahari yang tepat ada di atas kepala. Setelah berjalan kurang lebih 2 km gue terpikir ide lagi yaitu mencari tumpangan kepada kendaraan yang lewat, tetapi sangatlah sulit karena setiap kali mencoba memberhentikan pasti kendaraan yang melintas melaju dengan kecepatan tinggi sehingga ide ini tidak jadi digunakan dan akhirnya kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang telah gue tempuh bersama kedua sahabat gue akhirnya terhenti di jarak 7 km selanjutnya kami memutuskan naik angkot lagi dengan harapan harga angkot murah dan benar saja ketika naik angkot sejauh kira-kira 3 km lagi harga angkotnya untuk bertiga hanya 10 ribu. Gue bersama kedua teman gue akhirnya turun dari angkot di pangkalan 5 bantar gebang dan harus melewati perkampungan serta tanah lapang yang kosong untuk menuju ke air terjun curug parigi. Saat melewati perkampungan dan tanah lapang tidak terlihat tanda-tanda ada air terjun hingga kedua teman gue meragukan keberadaan air terjun curug parigi serta berencana memusuhi gue jika air terjun curug parigi itu tidak ada. Gue yang merasa diancam oleh kedua temanku gue sangat takut jika air terjun curug parigi itu benar-benar tidak ada tetapi seketika secercah harapan muncul ketika gue mendengar suara air yang kencang dari arah kanan gue yang hanya semak-semak dan juga  seperti jurang tetapi ternyata itu bukan jurang melainkan keberadaan curug parigi yang ada di bawah.

Gue bersama kedua sahabat gue pun menuju ke bawah melalui sebuah tangga dan sebelum kami turun sebagai ucapan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa kami berdoa bersama-sama. Sesampainya di bawah kami sangat senang karena untuk menikmati air terjun curug parigi tidak dipungut biaya sama sekali. Gue dan kedua sahabat gue pun langsung buka baju untuk segera menikmati kesegaran air yang ada di curug parigi di tengah panasnya kota bekasi dan seperti biasa kami berselfie ria. Ya walau sebenarnya sedikit menjijikan juga sih selfie tiga lelaki yang enggak pake baju. Setelah menikmati kesegaran dan keindahan curug parigi selama kurang lebih 90 menit gue bersama kedua sahabat gue cabut. Di perjalanan pulang biaya angkot menuju stasiun lebih murah karena kami melewati rute yang berbeda sehingga hanya perlu naik 2 kali angkot saja. Selain itu, gue baru ingat selama traveling di Bekasi kami tidak makan sama sekali.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here