NEGERI PARA RAJA by Natanil

0
475

Halo semua, saya akan menceritakan pengalaman saya berkunjung ke……mana hayo?? Yap, Torajaaaaa… Kalian tau kan Toraja? itu lho yang terkenal dengan upacara pemakaman yang sangat unik. Oke simak baik-baik artikel ini ya…

 

Kabupaten Tana Toraja dan Toraja Utara terletak di Provinsi Sulawesi Selatam. Tak heran kalau menuju ke Tana Toraja atau Toraja Utara memerlukan waktu yang cukup panjang, ya sekitar 2 jam perjalanan udara dan 8 jam perjalanan darat. Yaa sekitar 10jam untuk sampai ke negeri yang kaya akan budaya ini.

 

Pertama-tama saya harus naik pesawat dulu dari Jakarta ke Makassar, kemudian sesampainya di Makassar, saya harus naik bus malam lagi menuju Toraja. Sebenarnya kita juga bisa kalau berangkat siang, namun harus rental mobil dahulu karena tidak ada bus pagi berangkat ke Toraja. Karena naik bus malam ya terpaksa saya harus singgah terlebih dahulu di kos-kosan sepupu , kebetulan ada sepupu saya yang kuliah di UNHAS Makassar.

 

Sekitar jam 7 malam saya berangkat menuju terminal bus di Makassar, karena bus ke Toraja berangkatnya jam 9 malam. Setengah jam sebelum berangkat saya dipersilahkan naik ke bus. Tepat jam 9 bus berangkat horeeee…Mulai dari jalan lurus, berkelok, tanjakan, turunan dilalui oleh bus ini. Melewati perkampungan, hutan, pegunungan, persawahan juga dilewati bus ini, andaikan saja siang berangkatnya woww alangkah indahnya pemandangan ini. Saya terus mengamati perjalanan panjang ini ditemani lantunan musik bus ini walau remang-remang dan terkadang tidak terlihat sama sekali pemandangannya. Namun, sekitar jam 12 saya mulai ngantuk, badan saya rasanya butuh istirahat, tak terasa saya pun tertidur lelap.

 

Tepat jam 5 pagi mata saya mulai terbuka serta disambut dengan udara dingin. Terlihat pemandangan yang indah dari kaca bus. Sawah, gunung, sungai, rumah adat Tongkonan menyegarkan mata saya kembali. Ya saya sudah tiba di Toraja. Sekitar jam 7 pagi, saya sampai di terminal Rantepao, Toraja Utara. Kemudian saya turun dari bus dan mulai menghirup udara tanahnya para raja ini. Tak lama saya mulai dijemput oleh om saya untuk menuju rumah nenek.

 

Akhirnya saya sampai dirumah nenek, rumah kayu nan mungil ini ditambah sepasang lumbung padi khas toraja “alang” menyambut saya berserta para saudara saya. Ini adalah tempat kelahiran orang tua saya, sekaligus tempat berkumpul para keturunan Nenek Kotto dan Nenek Rupang.  Udaranya sangat sejuk, hamparan sawah yang luas membuat saya tidak bosan berada di Toraja ini.

 

Setelah beristirahat sejenak, saya kemudian menjelajahi desa Parinding, Kab.Toraja Utara dengan berjalan kaki. Saya menelusuri jalanan yang sangat menanjak maupun menurun. Tak jarang saya di tegur oleh masyarakat di sini dengan bahasa “umba miola sangmane?” yang artinya “mau pergi kemana bro?” karena ketidaklancaran saya untuk berbahasa Toraja, akhirnya saya hanya membalasnya dengan senyuman. Penduduk disini sangat ramah-ramah. Saya juga melihat kebersamaan penduduk di sini sangat baik untuk hal bergotong royong.

 

Saya baru ingat bahwa di dekat rumah nenek ada tempat wisata tersembunyi yaitu gua kuburan tua, saya langsung bergegas menuju tempat tersebut ditemani adik sepupu yang memang tinggal di Toraja. Letaknya dekat, namun karena medan jalan yang menanjak membuat saya merasa jauh dan lelah. Dan ketika sudah hampir sampai, saya merasa merinding karena sudah jarang orang yang mengunjungi tempat ini karena letaknya yang tersembunyi di atas bukit batu. Puluhan anak tangga saya langkahi dengan penuh hati-hati karena banyak lumut yang licin. Lalu saya sampai di tempat tujuan yaitu “Kuburan Tua Erong”. Saya langsung disambut dengan tengkorak-tengkorak yang tersusun, serta peti-peti tua yang mulai keropos karena dimakan usia. Ini adalah kuburan para bangsawan pada zaman dulu. Uniknya, disini tidak tercium bau apapun. Saya terkagum sekali dengan suasana di gua ini. Tak lupa saya ambil gambarnya.

 

 

Hari selanjutnya saya diajak oleh tante saya untuk pergi ke upacara pemakaman orang Toraja yang letaknya lumayan jauh dikaki Gunung Sesean(gunung tertinggi di Toraja). Orang Toraja punya cara unik saat pergi ke upacara pemakaman, yaitu pergi menggunakan truk. Dengan pakaian yang serba hitam, kami di jemput oleh rombongan satu desa yang ingin pergi ke upacara pemakaman. Dengan penuh rasa takut, cemas, dan gemetar saya naik truk ditambah jalan yang menanjak dan berkelok membuat perjalanan saya semakin menakutkan. Uniknya, masyarakat disini tidak merasa takut saat naik truk (mungkin karena udah biasa). Pemandangannya sangat indah, namun perjalannya yang saya takutkan. Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan menaiki bukit, akhirnya kami sampai di tempat upacara pemakaman. Upacara ini sangat ramai, bahkan banyak juga warga asing yang ingin mengetahui upacara rambu solo ini. Kerbau dan babi berlalu lalang tengah-tengah halaman. Memang untuk kerbau dan babi memang harus ada dalam acara ini, karena hewan ini tak bisa dipisahkan dari masyarakat Toraja.

 

Kemudian kami dari rombongan desa Parinding dipersilahkan masuk ke ruangan tamu untuk dijamu dengan berbagai cemilan dan kopi Toraja. Sangat unik sekali. Setelah itu kami pun makan siang dengan makanan khas toraja “Pa’piong”/masakan bambu. Makannya menggunakan kertas, kata salah satu warga sini supaya tidak repot-repot untuk cuci piring.

 

 

Hari ke 3 saya kembali menjelajahi negeri ini, kali ini saya menjelajahi pusat kota Rantepao dan Pasar Bolu. Oiya di dalam Pasar Bolu terdapat juga pasar kerbau terbesar se Asia lhoo. Rantepao adalah ibukota Toraja Utara, disana banyak menjual oleh-oleh khas Toraja seperti kue toraja (dalam bahasa Toraja deppa tori’) ,kain tenun, baju Toraja, dan aksesoris Toraja lainnya. Kalau di Pasar Bolu saya juga melihat banyak kekayaan alam khas Toraja seperti kopi Toraja, cabai Toraja (katokkon). Cabai Toraja ini sangat unik bentuknya bulat dan rasanya super pedas. Akhirnya saya membelinya sebagai buah tangan.

 

Di Toraja juga ada tempat wisata yang mampu menyaingi negara-negara lain, yaitu tempat wisata “Buntu Butake” atau dikenal Patung Yesus Memberkati. Patung ini biasa dijuliki sebagai “rio de junieronya Indonesia”. Setelah rio de juniero di Brazil. Sungguh sangat luar biasa Indonesia ini.

 

Pernah kah kita berada di atas awan? di Toraja ada sebuah objek wisata yang dinamakan “Negeri diatas awan”. Ini memang benar-benar kita disuguhi awan yang berada di depan kita. Kita berasa terbang ke langit. Namun kalau ingin melihat awan

nya kita harus menginap terlebih dahulu. Karena sekitar jam 5-7 pagi awannya muncul. Dan jika jam 8 keatas awannya sudah hilang tersapu angin.

Waktu terus berjalan, tibalah saatnya saya kembali ke Jakarta sebagai perantau. Berat rasanya meninggalkan kampung halaman tercinta. Berharap dapat kembali lagi ke sini menyatu dengan kekayaan budaya dan alam ini. Terima kasih Tuhan telah menghadirkan saya di dunia ink sebagai keturunan Toraja. Sampai jumpa Toraja, terima kasih untuk keindahan dan keunikan budayanya yang selalu membuat saya bangga. Toraja, tunggu saya kembali!

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here