Museum Kraton Kasunanan Surakarta by Taufik Hidayat

0
502

Solo terkenal sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa Islam. Hal ini yang menjadikan saya yang yang sangat suka dengan wisata sejarah bercita-cita suatu saat harus menjelajah kota ini. Kesempatan itu datang disaat yang sebenarnya kurang tepat. Karena waktu saya berkunjug kesana hanya sehari saja, bahkan kurang, karena saya ke Solo hanya untuk mengantar adik kuliah.

Saya yang tinggal di Jogyakarta, berangkat menuju Solo pada pagi hari dengan menggunakan kereta komuter “Prameks”. Salah satu kereta lokal yang melayani rute perjalanan jarak dekat untuk daerah Solo, Jogjakarta dan sekitarnya. Untuk harga tiket semua rute dengan kereta Prameks hanya dikenakan biaya Rp 8.000. Saya dan adik saya memilih jadwal perjalanan pada pukul 09.15 wib dari Stasiun Lempuyangan dan sampai di stasiun Balapan pada pukul 10.17. Sampai di Stasiun Balapan kami segera turun, berjalan keluar stasiun dan memesan taxi daring untuk mengantarkan adik saya menuju kosnya. Selama perjalanan saya bertanya seputar lokasi wisata sejarah yang sekiranya bisa saya dan adik saya kunjungi untuk fast travelling saya bersama adik. Sang sopir menyarankan untuk ke Benteng Vanstenberg, beberapa museum dan Kraton Kesultanan Surakarta. Saya berpikir sebentar lalu mengangguk. Oke, saya akan ke Benteng Vanstenberg.

Setelah sampai di kos adik saya, kami beristirahat barang sebentar lalu bersiap untuk sholat karena azan Dhuhur sudah berkumandang. Selesai melaksankan sholat, saya memesan taxi daring lagi, yang sebenarnya dari Stasiun Balapan menuju Bneteng Vastenburg hanya memerlukan biaya sekita Rp 7.000. Perjalanan dari kos menuju lokasi Benteng Vastenberg hanya memerlukan waktu sekitar 20 menit. Setelah sampai, saya membayar biaya taxi daring dan bergegas menuju benteng yang bahkan terlihat dari jalan raya. bangunan yang kokoh terlihat sejak dari luar pagar halaman benteng. Sayang, setelah sampai di dekat benteng, kekecewaan saya muncul karena ternyata benteng tidak dibuka untuk bisa dijelajahi sampai ke dalam atau memang saya kurang informasi soal itu. Akhirnya saya hanya mengambil beberapa foto dari depan benteng dengan latar tulisan Benteng Vastenberg.

Saya tidak kehilangan akal. Berbekal petunjuk dari sopir taxi daring yang kami pesan kedua tadi, saya tau kalau lokasi Kraton Kesultanan Surakarta juga berlokasi tidak jauh dari benteng. Mengikuti petunjuk yang ada di sekitar benteng Vastenberg, kami menuju ke arah selatan dengan berjalan kaki. Setelah melewati semacam pintu/pagar masuk khas zaman dulu serta beberapa pohon beringin yang berjejer setelahnya, kamu memasuki pelataran Alun-Alun Utara kraton. Kami berhenti di lokasi para pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar Alun-Alun Utara kraton. Menikmati soto dan bakso yang dijajakan para pedagang kaki lima. Dengan harga semangkuk soto Rp 10.000 dan bakso Rp 12.000 rasanya perut yang lapar sudah bisa lega.

Belum puas rasanya karena kami belum menemukan lokasi Kraton dan museum yang menjadi alternatif untuk dijelajahi sebagai ganti kekecewaan tidak bisa masuk benteng Vastenberg. Masih dengan berbekal pentunjuk dari rambu jalan, menuju keluar pelataran Alun-Alun Utara menuju arah timur kemudian belok ke kanan mengikuti jalan beraspal yang satu arah menuju ke selatan. Setelah melewati jalan yang mirip gang tapi dengan ukuran agak lebar tersebut, sampailah kami di halaman Kraton Kasunanan Surakarta. Dengan warna hijau telor asin dan bangunan khas klasik kerajaan, aku terutama, sangat terpukau dengan bangunan Kraton walau hanya terlihat dari halaman. Kebetulan saat itu, Kraton tidak dibuka. Setelah mengambil beberapa foto untuk dokumentasi, melanjutkan lagi perjalanan mengikuti jalan setapak mengikuti plang menuju Museum Kraton Surakarta.

Hanya sekitar 10 menit jalan kaki saja kami telah sampai di loket pintu masuk. Dengan harga Rp 10.000/perorang kami masuk ke museum. Pintu masuk yang sederhana membuat museum terlihat sangat sederhana. Mengikuti orang-orang yang juga lumayan ramai saat itu menuju sebuah papan berisi silsilah penguasan kerajaan Mataram Islam dari Trah Majapahit. Ada juga para pengunjung yang berebut membeli oleh-oleh yang kebetulan dijual di sebuah toko dalam museum dekat dengan papan silsilah itu. Menjelajahi museum yang memiliki gedung berbentuk huruf U dengan taman di dalamnya termasuk sebuah mushola yang sangat kental dengan suasana zaman kerajaan. Saya terutama sangat antusias dengan barang-barang museum yang hampir lengkap, terdiri dari peralatan purbakala, zaman hindu budha pada masa Mataram Kuno, sampai pada Mataram Islam. Kami menjelajah museum sampai benar-benar puas. Merasakan seolah-olah kami menjelajah waktu kembali kepada masa lalu ke zaman prasejarah sampai pada zaman Kesultanan Surakarta.

Selain bisa mendokumentasikan momen di museum dengan menggunakan kamera sendiri, pihak museum juga menyediakan jasa foto sekaligus diprint dengan biaya hanya Rp 15.000 untuk selembar foto ukuran 5R. Kami menjeajah museum sampai pukul 15.00 wib sesuai dengan jam buka museum dan saat itu pengunjung museum menyisakan hanya tinggal beberapa orang saja.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here