Menjelajah Alam Menuju Air Terjun Gunung Pandan by Hanafi Rusli

0
496
Mimpi bersama, kami yakin semua orang mempunyai mimpi besar. Yang
membedakan satu sama lainnya adalah seberapa besar dari masing-masing orang
untuk menggapai mimpi besar itu. Mimpi kami adalah suatu saat Aceh Tamiang
ini akan menjadi pusatnya Pariwisata di perbatasan Aceh.

Salah satu usaha yang kami lakukan adalah dengan mengeksplore kepada
masyarakat tentang adanya potensi wisata di Aceh Tamiang. Awalnya kami
menggantungkan mimpi itu, tapi akhirnya kami bisa melakukan perjalanan
menelusuri setiap jengkal keindahan Bumi Muda Sedia ini. Tidak banyak orang
yang peduli untuk membangun daerahnya terutama pemuda-pemudi saat ini.
Alhamdulillah kami punya kesempatan dan diberikan kesehatan untuk melakukan
ekspedisi di salah satu aliran anak sungai gunung pandan ini.

Perjalanan kali ini bersama teman-teman yang hobinya sama menjelajah alam
(Saya, Dedi Wahyudi, Armaidi, Wulan dan Rizka) diawali dengan berjalan kaki
mulai dari lokasi pemandian gunung pandan pada pukul 14.30 WIB. Sedangkan
sepedamotor yang kami bawa dititipkan di rumah salah satu rumah warga yang
tinggal di dusun gunung pandan. Sebenarnya bisa saja kami parkir sepeda
motor di atas perbukitan aliran gunung pandan ini, hanya saja karena
sekarang ini daerah gunung pandan sering dikunjungi masyarakat dari luar
desa, jadi sangat rawan untuk memarkirkan sepeda motor tanpa ada yang
menjaganya.

Setelah 20 menit berjalan menapaki bukit dan lembah di gunung pandan ini,
kamipun terhenti sejenak di bawah pohon rindang yang menyelimuti aliran
sungai. Ya sekedar berenang-renang sejenak menikmati keindahan alam dan
dinginnya air sungai. Hamparan butiran pasir di tempat ini menambah
eksotiknya pemandangan sekitar sungai.


Bentuk aliran sungai (alur batu) ini memang terlihat lebih menanjak. Disini
juga sudah tidak ditemukan perkebunan karet milik masyarakat, tetapi
ternyata ada beberapa potongan kayu yang melintang baik dipinggir maupun di
sungainya.

Perjalanan Kami sempat terhenti karena menemukan percabangan lagi di aliran
anak sungai ini. Pilihannya ada dua, lurus atau belok ke kiri. Karena
memang niat dari awal memang penelusuran mencari potensi air terjun,
akhirnya kami putuskan untuk menelusuri percabangan aliran anak sungai ini
terlebih dahulu.

Tidak seperti yang diharapkan, aliran sungai ini sangat susah dilewati.
Ternyata di aliran anak sungai yang kami pilih, puluhan batang pohon
melintang menutupi akses jalan sungai. Pohon-pohon besar yang mungkin
berumur ratusan tahun sudah habis ditebang karena pembalakan liar hutan.
Batang-batang kayu ini tersusun berlapis-lapis dan terkadang potongan kayu
yang kami pijak amblas ke bawah.

Sudah 15 menit Susah payah kami berjalan dari percabangan sungai ini,
tetapi sama sekali tidak terlihat adanya air terjun. Maka kami putuskan
kembali keluar percabangan dan beristirahat sejenak.

Kami jalan kaki sudah hampir satu jam lebih. Rasa putus asa pelan-pelan
mulai menggerogoti kami, ditambah lagi rasa lelah karena melewati puluhan
batang kayu tadi. Belum lagi membayangkan lelahnya perjalanan pulang.

Karena keterbatasan waktu dan persediaan makanan, kamipun bingung apakah
perjalanan ini diteruskan atau dilanjutkan lain waktu. Akhirnya saya,
Armaidi dan Rizka sepakat naik ke atas lagi 15 menit tanpa membawa tas
sehingga tidak begitu lelah. sementara Dedi Wahyudi dan Wulan menunggu di
bawah.

Selama 15 menit naik ke atas, tidak ditemukan lagi air terjun seperti yang
diharapkan. Tetapi karena terlihat aliran air sungai ini sepertinya menuju
bukit yang tinggi dihadapan kami, maka perjalanan tetap dilanjutkan. Dan
benar saja, sontak suara sorak gembira kami bertiga mewarnai senangnya rasa
hati ini. Bagaimana tidak, air terjun yang ditemukan tingginya kira-kira 15
meter dan terlihat hutan disekitar air terjun ini masih sangatlah alami.
(very natural). Woooooowwww Amazing…..

Rasanya tiba-tiba lelah badan ini menjadi hilang, ditambah lagi kami merasa
nyaman berendam di bawah derasnya air terjun.

Karena keterbatasan waktu kami tidak bisa lagi menelusuri tingkatan-demi
tingkatan air terjun ini. Butuh ekspedisi lanjutan untuk dapat tau berapa
sebenarnya jumlah tingkatan yang ada di air terjun ini.

Dari perjalanan kami ini kami simpulkan, ternyata AIR TERJUN ALUR BATU
GUNUNG PANDAN yang dimaksud warga setempat bukanlah air terjun yang kami
temukan ini. Mungkin yang dimaksud adalah air terjun-air terjun kecil yang
kami lewati selama perjalanan menuju air terjun baru ini.

“Makna dari perjalanan kami ini bukanlah terletak dari cantiknya tempat
tujuan/destinasi. Tetapi arti perjalanan sesungguhnya adalah bagaimana kita
berbagi dengan sesama, mensyukuri setiap peluh keringat yang jatuh, belajar
memulai sesuatu dengan apa yang ada dan rasa tanggungjawab membangun daerah
Bumi Muda Sedia ini”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here