JOGOMALANG by Ditta Widya

0
303

Cerita tentang travelling emang gak ada habisnya. Termasuk buat gue, Ditta Widya Utami. Gue bukan maniak travelling yang tiap hari berburu tiket promo atau give away. Tapi, sesekali travelling itu perlu. Perlu banget malah! Buat refresh pikiran kita yang mumet atau hati kita yang galau. Eea… 😀 biar makin seru, travellingnya ajak temen doong. Kaya gue yang travelling di akhir tahun 2013 ^_^

 

Cerita yang gue tulis ini adalah salah satu travelling yang gak bakal gue lupain. Kenapa?  1. Ini termasuk travelling yang lumayan lama bagi gue, seminggu buat tahun baruan di luar propinsi asal gue; 2. Travelling kali ini bisa dibilang hadiah perpisahan buat temen gue, Melda yang berasal dari Kepulauan Riau. Dia bilang, setelah lulus kuliah dan sebelum balik ke Riau, dia pengen jalan-jalan di luar Bandung, luar Jabar. So, berangkatlah gue, Melda dan si asli Magelang, Ratna Dhevi travelling ke Jogja, Solo, Magelang (Jogomalang).

 

29-30 Desember 2013

Bis malam dari Bandung-Jogja memerangkap gue, Dhevi dan Melda. Rencana awal, kami akan bertandang ke rumah Dhevi di Magelang. Tapi, kejutan datang saat pagi menjelang. Dhevi bilang bis yang kami tumpangi mengambil rute yang berbeda. Tidak lewat Magelang. Hahah, panik langsung lah gue ! Tapi, Dhevi justru nawarin sesuatu yang nggak bisa ditolak. Ngikutin jalur bus, lalu turun untuk menuju Gunung Merapi. Wooww…

 

Saat itu, beberapa kawasan merapi masih ada yang ditutup pasca erupsi Gunung Merapi. Tapi, kami masih bisa mengitari bukit untuk melihat panorama sekitar. Takjub sekaligus sedih karena gue inget dahsyatnya ledakan kawah Gunung Merapi ini sampai-sampai Bandung dan sekitanya pun terkena butiran debu vulkanik.

 

Beberapa monyet memandangi kami selama pendakian. Karena tidak membawa cemilan untuk diberikan, kami sampai harus berhenti menunggu kawanan monyet bubar atau ada pendaki lain yang lewat. Note #1 selalu bawa kacang kalau pergi ke hutan terutama yanga da monyetnya.

 

Usai menikmati Merapi, kami putuskan beranjak ke kota Jogja. Menemui seorang teman lalu mencari tempat bermalam yang aman (syukurlah ada teman Melda yang bersedia menampung kami).  Note #2 pesan penginapan jauuuuh jauuuh hari sebelum travelling biar gak luntang lantung karena semua penginapan penuh!

 

31 Desember 2013

Sebenernya gue udah nggak asing sama Jogja. Waktu kecil gue sering diajak study tour ke Jogja. Tapi travelling kali ini beda. Terutama setelah gue ditampar sama kata-kata Melda, “Aku tuh kalau jalan-jalan, harus dapet sesuatu (ilmu) dari tempat yang aku datengin. Nggak cuma jalan doang.” Jlebb. Ngena banget.

 

So, jadilah gue makin perhatian sama detail-detail dari berbagai tempat yang gue datengin atau makanan/minuman khas daerah yang masuk ke perut gue. Travelling di hari ketiga kami habiskan untuk mengunjungi Sentra Gudeg Jogja, UGM, Prambanan (seneng nih pergi ke Prambanan pakai Trans Jogja, meski harus rela basah kuyup kehujanan dan melihat candi yang sedang direnovasi), Vredeburg (pas datang ternyata sudah tutup, hiks), dan Malioboro (menikmati nasi kucing, wedang ronde dan Bakmi Pak Pele yang ngantrinya minta ampun!).

 

Hari ini, gue, Melda dan Dhevi sepakat menghabiskan malam tahun baru di Malioboro. Sekelebat cahaya kembang api menghias langit malam Malioboro yang padat pengunjung. Malam itu Jogja gegap gempita sekaligus berduka karena di hari pergantian tahun tersebut, Gusti Joyo, adik Sultan Hamengkubuwono X meninggal dunia.

 

 

1 Januari 2014

Usai beristirahat sejenak di Masjid Besar Jogja (Masjid Gedhe Kauman), gue ngerengek ke Dhevi supaya bisa naik kereta. Hahah, udah segede gini belom sekali pun gue ngerasain naik kereta, kecuali kereta di taman hiburan atau dulu pas gue masih di kandungan terus nyokap pergi ke Jogja.

 

So, Dhevi ngajak gue dan Melda naik kereta Jogja-Solo. Tak apa duduk di lantai karena tidak kebagian tempat duduk. Yang penting happy karena akhirnya gue bisa naik kereta.

 

Stasiun Solo Balapan menyambut kami dengan sepotong roti Maryam yang kami dapatkan dari penjual di stasiun. Di Solo, kami berkeliling menggunakan becak. Menikmati Nasi Liwet Bu Wongso Lemu khas Solo yang sering dimakan Pak Soeharto serta mengunjungi pasar tradisional terbaik kebanggaan Solo: Pasar Gede.

 

Tempat wisata di Solo letaknya berjauhan. Jadi, kami putuskan tak berlama-lama di Solo dan langsung melaju ke Magelang, menuju rumah Dhevi.

 

2 Januari 2014

Magelang tak kalah seru dengan Jogja atau Solo. Hari kedua di tahun baru kami habiskan untuk mengunjungi Alun-alun Magelang, Taman Kyai Langgeng, Candi Mendut, dan Borobudur. Seperti Prambanan yang sedang direnovasi, Candi Mendut pun sedang dalam tahap dipugar kembali.

 

 

Di Borobudur, Melda yang semangat belajar, terus mengekor di belakang para turis yang menyewa tour guide. Heheh, biar dapat penjelasan gratis katanya meski untuk sekilas karena kami harus segera kembali.

 

 

 

3 Januari 2014

Hari terakhir di Magelang kami habiskan untuk membeli oleh-oleh. Gue? Borong buku doong plus bakpia. Salak pondoh nya dapet gratisan niih dari Dhevi. Yippiiiii…

 

4 Januari 2014

It’s time to go home. Seneng campur sedih sih di hari terakhir travelling. But well… bisa dibilang, gue kenyang banget jalan-jalan ke Jogomalang kali ini. ^_^

 

* END *

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here