Fenomena Arus Air Laut Dingin, Warga Pesta Ikan by Devita

0
590

Siang itu saya dan beberapa warga lokal telah berkumpul di pesisir pantai Alor Kecil. Oke, sebelumnya sedikit belajar tentang Geografi dulu ya. Kabupaten Alor adalah daerah kepulauan paling timur Nusa Tenggara Timur. Kabupaten ini berbentuk kepulauan dan bisa ditempuh melalui dua cara yakni jalur udara penerbangan dari Kupang (Bandara Udara El Tari) menuju Alor (Bandara Udara Mali) selama 50 menit. Kedua, melalui jalur laut dari Kupang menggunakan kapal Feri menuju Alor dengan waktu tempuh 12 jam. Oh ya, Kabupaten Alor ini berbatasan dengan laut Flores di utara dan Timor Leste di selatan. Biar nggak bingung sambil lihat peta ya hahaha. Alor Kecil yang saya maksud di sini terletak di kecamatan Alor Barat Laut, 20 menit perjalanan dari pusat kota Kalabahi. Laut di Alor Kecil ini memiliki laut berwarna biru jernih, berpasir putih, terumbu karang yang terawat  serta biota laut yang beragam sehingga menjadi spot snorkling dan diving terbaik. Eittts tapi ada keistimewaan lain dari laut di Alor Kecil ini yakni fenomena arus air laut dingin yang cuma ada 3 kali dalam setahun sekitar bulan Agustus hingga September.

Fenomena arus air laut dingin ini berlangsung sekitar 1 hingga 2 jam saja dan terjadi pada musim kemarau menjelang musim penghujan. Sinar matahari yang cukup terik rasanya sangat kontras dengan air laut di laut Alor yang dinginnya seperti es ini. Suhu air laut mencapai 10 °C hingga 0 °C dan tentu saja ketika saya mencoba memasukkan kaki ke air, cepat-cepat saya mengangkatnya lagi. Fenomena arus air laut dingin ini terjadi siang hari sekitar pukul 12.00 WITA dan malam hari pukul 00.00 WITA.

Perubahan suhu air laut menjadi dingin ini ditandai dengan munculnya gerombolan lumba-lumba hingga hampir ke tepi laut dan burung pemakan ikan. Burung pemakan ikan ini bermunculan karena ikan-ikan di dasar laut akan mabuk dan pingsan sehingga terapung di permukaan laut akibat tidak tahan dengan perubahan suhu air yang secara tiba-tiba. Banyak sekali jenis ikan seperti cendro, buntal dll terapung di permukaan dan perairan dangkal. Saya dan masyarakat sekitar tidak hanya menyaksikan keajaiban fenomena ini melainkan ikut berburu ikan-ikan di permukaan dengan jala maupun tombak. Anak kecil dan mama-mama di sini tidak mau ketinggalan karena mereka juga ikut berburu ikan dengan serokan. Ya, memang segampang itu mengambil ikan saat arus air laut dingin haha. Tapi konon ikan hasil perburuan ini rasanya sedikit hambar dibandingkan dengan ikan segar.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here