Day 1 – Singapura & Pattaya

0
572

Perjalanan hari pertama – Jakarta – Singapura – Thailand (Bangkok) – Thailand (Pattaya)

Pesawat kami dari Bandara Soekarno Hatta Tangerang adalah pukul 09.45. Anda harus memperhitungkan waktu dengan baik mengingat kemacetan di Jakarta yang dak terprediksi.

Kami telah berangkat dari rumah pukul 06.30, mengingat kami mau agak santai dalam perjalanan dan sampai di Bandara kami mau buat video-video untuk bisa di post pada catatan perjalanan kami kali ini lho!

Keberangkatan kami dari Terminal Internasional Jakarta menggunakan pesawat Tiger Airways menuju Singapura. Tiger Airways untuk perjalanan kali ini menggunakan pesawat Airbus A320. Take off yang sempurna dilakukan oleh sang pilot. Namun pada saat landing di Changi sedikit ‘bumpy’, mungkin di akibatkan karena landasan sedikit basah.

Menggunakan TigerAir lumayan nyaman karena jarak kursi ke kursi yang cukup lega, foto-fotonya bisa dilihat disini ya….

Waktu kami ba di Singapura dan sampai lepas dari imigrasi serta mengambil koper, kurang lebih jam satu siang. Kami mulai merasa lapar dan karena kami punya waktu sampai dengan pukul 17.45 maka di sinilah ide kami muncul. Kami ingin mengeksplorasi Bandara Changi! Kami akan langsung check in ke pesawat yang akan membawa kami menuju Bangkok, yaitu menggunakan pesawat Scoot Airline.

Oh ya, Changi adalah salah satu bandara yang sangat strick! Jangan sampai kelebihan bagasi 0.1 kilogram saja, maka akan terkena charge tambahan. Tidak bisa nego–nego–nego di sini, dan juga kita perlu memahami bahwa membawa barang yang bisa dimasukkan ke bagasi dan pesawat.

Setelah kami check in dengan pesawat baru kami dan mendapatkan boarding pass, kami kembali masuk ke bandara melewati imigrasi dan kami duduk sebentar pada sebuah taman untuk mengabadikan foto bersama kami.

Bandara Changi memiliki berbagai macam fasilitas gratis dengan kenyamanan yang luar biasa nyaman! Dan kami ingin mulai mengeksplorasinya satu persatu pada perjalanan kami kali ini!

Orchid Garden

Tempat kami berfoto di atas bernama Orchid Garden. Begitu Anda masuk ke bandara terminal 2 dari Bandara Internasional Changi, maka Anda akan mendapa sebuah taman. Semua taman yang ada di Bandara Changi, tanamannya bukan tanaman plastik tapi benar-benar tumbuhan asli! Sebelum kita bahas lebih jauh, saya akan memberikan peta dari Bandara Changi. Changi dibagi menjadi tiga terminal. Berhubung Scoot utuk  penerbangannya akan di terminal 2, maka kami mulai dari terminal 2. Tempat indah ini dilengkapi bukan hanya dengan bunga orchid hingga 1000 bunga, tapi juga terdapat kolamnya. Enak sekali untuk bersantai dan berfoto di sini. Kami pun mengabadikan beberapa jepretan foto untuk buku ini .Upss…  kami lupa ketika asyik berfoto ria di Orchid Garden bahwa sebenarnya kami ingin mencari makan siang. Kami bermaksud makan siang di terminal 3. Oleh karena itu, dari Orchid Garden kami menuju terminal 3 dengan menggunakan Skytrain yang jaraknya tidak jauh dari tempat ini.

Belum jauh kami melangkah, Ryan sudah tertarik dengan sebuah layar besar dan kayu-kayu bulat. Mampirlah kami ke tempat gratisan kedua di fasilitas Changi ini. Make It Your Singapor. Dalam setiap kayu berbentuk lingkaran terdapat dua sisi yang menampilkan gambar dan di sisi lain adalah penjelasannya. Dalam setiap lingkaran terdapat hal-hal yang khas dari kota Singapura. Misalnya terdapat gambar makanan dalam sebuah piring nasi, ketika saya balik tertulis Chicken Rice, sebuah makanan favorit dari warga di kota Singapura. Banyak lagi hal khas lainnya yang dicatat dalam bentuk ikon dan penjelasannya.

Nah bagaimana dengan layar yang ada kameranya itu? Ternyata kamera dan layar tersebut mendokumentasikan foto kita dan mengubahnya berbentuk pixel, bagaimana hasilnya?

 

 

 

 

 

 

Unik sekali bukan?

Selepas dari dua tempat gratisan di Changi tersebut yang membuat kami tidak terasa telah menghabiskan satu jam, kami bergegas menuju terminal 3 untuk makan siang! Sudah dak jauh menuju Skytrain dari tempat bernama Make It Your Singapore ini. Kami menuju terminal 3 dengan Skytrain dengan tujuan utama adalah tempat makan food court bernama Singapore Food Street.

Sampai di terminal 3 kami harus melewati jalan yang cukup panjang untuk bisa mencapai lokasi food court. Namun dapat saya pastikan Anda tidak akan merasa bosan karena konsep mal yang nyaman membuat bandara terminal 3 ini begitu tepat untuk cuci mata dan berbelanja. Posisi Anda ketika turun dari Skytrain dari T2 adalah di level 2. Singapore Food Street yang kami tuju adala pada level 3 (yang dilingkari), untuk menuju ke sana jalan terus di level 2 dan Anda akan mendapatkan sebuah penanda lokasi bertuliskan 24 Hours Foods.

Singapore Food Street

Singapore Food Street adalah sebuah lokasi tempat makan (food court) yang buka selama 24 jam pada areal seluas 1.000 meter persegi. Anda dapat memilih dari 13 food stand di lokasi ini. Anda dapat menikmat berbagai macam makanan khas dari Singapore seperti Nasi Lemak, Roti Prata hingga Ice Khacang.

Kami melakukan santap siang di Singapore Food Street. Saya memilih untuk membeli mie babi, sedangkan Ryan memilih nasi campur babi panggang. Dan kami juga menambah pesanan berupa bakso ikan yang merupakan khas Singapore atau sering disebut fish cake, harus dicoba kalau ke Singapore. Untuk range harga makanan di food court ini berkisar $5 sampai $8 per porsi. Untuk minuman, Anda bisa membeli air mineral 600ml di Seven Eleven seharga $1.5 yang termurah. Bila Anda sudah berada di Singapore Food Street, Butterfly Garden tepat berada di belakangnya, sehingga Anda bisa langsung menuju Butterfly Garden.

Butterfly Garden

Butterfly Garden adalah taman yang berisi berbagai macam jenis kupu-kupu dan terdiri dari dua lantai, yaitu pada level 2 dan level 3 dari terminal 3. Butterfly Garden memiliki posisi lebih dekat dengan Skytrain menuju terminal 1 dan lagi-lagi fasilitas Batterfly Garden ini juga dapat kita nikma secara GRATIS.

Ya, meski agak panas karena pada saat kami datang ke Butterfly Garden, matahari bersinar terang. Namun ini adalah pengalaman pertama kami untuk bisa bergitu dekat dengan banyak kupu-kupu. Tempat ini begitu asri dengan semua tanaman yang terawat. Tempat ini saya kira menjadi tempat wajib untuk mengajak putra-putri kita untuk berekreasi sekaligus belajar. Bila Anda keluar dari Butterfly Garden dari level 2, maka tepat di sebelah Butterfly Garden Anda menemukan tempat dengan kolam serta gemericik air di dalam ruangan. Itulah tempat yang tepat untuk beris rahat sejenak dan mungkin mengisi ulang gadget Anda yang baterainya sudah mulai melemah, yaitu di Koi Pond.

Koi Pond

Sambil duduk di sekitar kolam ikan koi kita bisa sam- bil bersantai dan mendengarkan gemericik airnya, hmmm… tempat yang cukup nyaman untuk beristirahat. Dan bila pada saat ikan-ikan koi ini makan (feeding me), maka putra-putri kita bisa ikut turut serta memberi makan ikan-ikan koi tersebut.

Tanpa terasa jam di tangan saya telah menunjukkan jam empat sore, woww… dak terasa menghabiskan waktu bersantai sambil melihat-lihat fasilitas gratisan Bandara Changi. Benar-benar dak bisa habis dalam sehari tampaknya. Meski masih ada tempat lainnya seper Movie Theatre yang berada di level 3, kami kembali bergegas jalan menuju terminal 2 mengingat agak jauh dan lebih baik bersantai di sekitar ruang boarding.

 Kami berjalan kembali ke terminal 2 dengan mengambil rute yang sama yaitu melalui Skytrain dan menuju ke area boarding. Berhubung ruang tunggu belum dibuka dan di dekat ruang tunggu ada satu fasilitas lagi yang kami gunakan bernama Sanctuary Lounge.

Sanctuary Lounge

Sanctuary Lounge berlokasi cukup jauh dari fasilitas lainnya, berada di transfer E menuju gate E1-E12.

Tempat ini juga sama dengan tempat lounge lainnya dengan bunyi gemericik air sehingga tenang dan kita bisa berisitrahat untuk menunggu pesawat. yang akan kita tumpangi. Dilengkapi juga dengan tempat untuk charge handphone, membuat tempat ini menjadi lokasi yang tepat untuk menunggu bila Anda memiliki pesawat keberangkatan dengan Gate E1-E12.

Namun ada satu hal yang membuat tempat ini kurang nyaman adalah berdekatan dengan smoking room. Ya, bisa nyaman dan dak, bergantung apakah Anda perokok atau dak, mengingat Singapura adalah salah satu negara yang begitu disiplin termasuk asap rokok. Karena berdekatan dengan smoking room, Sanctuary Lounge ini sedikit terasa bau asap rokok. Meski samar-samar, namun ada rasa kurang nyaman bagi yang begitu sensitif dengan bau asap rokok.

Oh ya, untuk koneksi internet di Bandara Changi, Anda dak perlu terlalu repot karena di setiap sudut bandara ini, Anda tinggal menghubungkan free wifi dari Bandara Changi yang kecepatannya cukup untuk browsing hingga streaming.

Setelah kami beris rahat di Sanctuary Lounge selama beberapa saat, gate kami dibuka dan kami masuk menuju pesawat yang akan membawa kami ke Bangkok,Thailand. Seper yang telah saya katakan, kami menggunakan Scoot Airlines.

Sebelum kami boarding, kami menyempatkan diri untuk berfoto bersama mascot dari Changi Airport.

Scoot adalah maskapai yang kami gunakan. Maskapai ini menggunakan pesawat yang besar yaitu pesawat ga baris untuk penerbangan jauh yaitu Boeing 787. Pesawat besar tentunya lebih enak. Baik dari segi take over dan landing, pesawat ini begitu nyaman, apalagi untuk yang memiliki kaki panjang ( dak dengan kami berdua yang imut-imut hehehe). Jarak antar-kursi yang lega membuat penerbangan dengan durasi lama lebih nyaman. Dengan budget yang cukup murah, penerbangan dengan Scoot Airlines bagi saya cukup nyaman. Nyaman di kantong dan nyaman di perjalanannya, hehehe…

Selisih waktu dari Jakarta dan Singapura adalah satu jam. Ketika kita terbang dari Singapura ke Bangkok, maka selisih waktunya kembali satu jam. Jam di Jakarta dan Bangkok dak memiliki perbedaan waktu. Mendaratlah kami di Bandara Internasional Don Mueang, Bangkok. Penerbangan kami dengan Scoot lancar dan tepat waktu. Kami sampai jam 19.15 waktu Bangkok dan kami bergegas keluar dari imigrasi.

Apa yang kami pikirkan pada saat itu adalah bagaimana caranya agar kami bisa langsung ke Pattaya. Untuk menuju Pattaya ada beberapa cara yang dapat kita lakukan.

1. Menggunakan bus menuju Pattaya

Bila kita menggunakan bus maka ada dua cara yaitu bus yang langsung menuju Pattaya atau menggunakan bus dari stasiun        bus. Kendala utamanya adalah jam kedatangan kami yang sudah larut malam dan jarak Bangkok ke Pattaya seperti yang        telah saya jelaskan seperti Jakarta ke Bandung kurang lebih. Bila kami menggunakan bus, maka masalah lainnya adalah terdapat dua bandara di Bangkok, yaitu Don Mueang dan Suvarnabhumi. Bus yang tersedia langsung dari bandara langsung menuju Pattaya adalah bukan dari Don Mueang, namun harus ke Suvarnabhumi.

Dengan membaca banyak informasi sebelumnya, bahwa bus terakhir dari Suvarnabhumi adalah jam delapan, dan                        perjalanan dari Don Mueang (bandara yang diperuntukkan budget pesawat) menuju Suvarnabhumi (bandara baru Bangkok)    akan memakan waktu 30 menit dengan catatan tidak macet yang kondisi jalanan Bangkok dak jauh berbeda dengan Jakarta,    kami merasa agak ngeri.

Cara lain adalah dengan menuju ke stasiun bus di terminal bernama Ekkamai dan Mochit. Namun kami yang baru pertama    kali menginjakkan kaki di Bangkok agak takut karena bisa saja kami memakan waktu lebih lama untuk mencari terminalnya, dan sampai di Pa aya juga kami akan turun di Stasiun North Pattaya yang sampai saat itu kami belum punya bayangan seberapa sulit dan seberapa berbahayanya areal tersebut di malam hari. Keunggulan menggunakan bus bukan dari bandara adalah bisa sampai pukul 23.00 keberangkatannya dan biaya yang lebih murah berkisar 120 Bath.

2. Menggunakan travel

Nah untuk transportasi ini kita layaknya menggunakan jasa travel dari Jakarta ke Bandung. Anda bisa mengakses dan                memesan melalui situs webnya http://www.belltravelservice.com/

Dan lagi-lagi kita dak bisa mengakses langsung dari Don Mueang, kita perlu ke Suvarnabhumi terlebih dahulu untuk bisa          menggunakan Bell Travel Service. Lagi-lagi kami menemukan kendala untuk menggunakan Bell Travel Service.

Keberangkatan terakhir dari Suvarnabhumi adalah jam enam sore, dan tiba di Pattaya di atas jam lima sore tidak memungkinkan kita untuk diantar ke hotel tempat kita menginap. Biaya untuk bus travel ini adalah sebesar 240 THB per orang. Dan tentunya pada kali ini kami tidak bisa menggunakannya.

3. Dijemput oleh hotel tempat kita menginap

Nah ini yang paling nyaman, karena tentunya akan dijemput dari bandara tempat kita mendarat (dalam hal ini di Don                Mueang). Silakan Anda tanya kepada hotel tempat Anda menginap berapakah biayanya.

 4. Pakai Uber

Nah ini layanan taksi berbasis aplikasi yang semakin hari semakin terkenal. Kami lakukan pengecekan pada saat itu memiliki biaya berkisar 1300-1500 THB. Anda bisa order menggunakan aplikasi Uber. Beberapa kendala untuk order Uber di tempat yang berbeda adalah kendala komunikasi. Tempat Anda akan dijemput dan janjian akan menjadi sangat penting ketika Anda memesan taksi berbasis online.

Pada saat kami ba di Don Mueang kami kesulitan sinyal dan pada saat yang sama ke ka aplikasi kami cek keadaan dalam tarif dua kali lipat, sehingga kami dak jadi menggunakan taksi Uber pada saat itu. Oh ya, Anda bisa gunakan situs web http://uber-esmate.com/ untuk melakukan es masi biaya perjalanan dengan uber di dunia.

5.Pakai taksi bandara

Akhirnya kami menggunakan layanan taksi bandara pada perjalanan kami kali ini. Dengan pertimbangan waktu tiba yang sudah pasti akan larut malam, kami juga berupaya untuk mempercepat waktu tiba kami di Pattaya karena kami berharap masih bisa keliling-keliling menikma kota yang 24 jam itu di malam hari.

Turun dari area kedatangan, kita berjalan ke arah paling pojok kiri dari terminal kedatangan, maka kita akan menemukan tempat antrean untuk taksi bandara. Kami mengantre kurang lebih 20 menit untuk bisa mendapatkan taksi kami menuju Pttaya. Karena kondisi pada saat itu memang cukup banyak yang ngantre.

Perjalanan dengan taksi menuju Pattaya dari jam 19.30 dan ba jam 22.00 di hotel kami A-One Star Hotel di Pattaya dengan menghabiskan biaya 1.680 THB.

Hal yang paling berkesan dalam perjalanan menuju Pattaya dari Bangkok adalah jalanannya yang begitu lurus, dan kami sampai agak ngeri karena jalanan yang begitu lurus, khawatir pada malam hari sopir taksi yang kami tumpangi mengantuk. Menyetir dalam kondisi jalanan lancar dan lurus merupakan suatu cobaan tersendiri. Namun syukurlah kami tiba dengan selamat. Oh ya kami sempat mampir ke salah satu pom bensin dan juga berbelanja sedikit beberapa permen dan camilan karena saya suka dengan permen. Hehehe…

Tiba di hotel kami langsung check in, hmmmm… Kesan pertama yang kami dapatkan dari A-One Star Hotel adalah hotel ini nyaman dan dengan konsep hotel cukup baru terasa sekali ke ka sampai di lobinya. Dengan harga Rp377.000 ke ka kami memesan, sampai sejauh di lobi kami merasa hotel ini cukup layak, oh ya, hotel ini berbintang tiga. Dengan tampilan lobi dan kesan pertama, rasanya bintang ga menurut kami terasa kerendahan untuk kenyamanannya. Namun, memang dari segi ukuran tampaknya bintang tiga layak untuk hotel ini, hehehe…

Meskipun malam hari rupanya kami tetap perlu menunggu untuk masuk ke kamar agak lama. Berkisar 20 menit kami menunggu di lobi kami baru mendapatkan kamar kami.

Dan kami langsung naik ke lantai tiga untuk segera menaruh koper kami, karena ada 3 hal yang kami rasakan, lelah karena sudah seharian di jalan, jam sudah malam tapi tampaknya agak lapar karena waktu kami makan berat terakhir adalah jam makan siang, dan rasa penasaran ingin keliling dari kehidupan malam kota Pattaya ini.

Seper apakah kamar dari A-One Star Hotel? Ya kami pun penasaran melihat lobi dan lorong menuju kamar yang begitu modern, dan inilah interior dari kamar kami di hari pertama perjalanan kami pada trip kali ini.

Selesai menaruh koper di kamar, rasa penasaran ingin mengelilingi kota Pattaya jam 22.30 malam pun masih menyala! Maka setelah beris rahat sejenak, kami pun keluar dari kamar hotel dan mulai bertanya-tanya di manakah pusat keramaian dari malam hari di Pattaya.

Turun dari kamar menuju lobi, melalui resepsionis disarankan untuk melihat-lihat kehidupan malam di Pattaya Walking Street. Dan kami pun bertanya ba- gaimana caranya agar kami bisa ke Pattaya Walking Street, resepsionis kami menjelaskan bahwa dari areal tempat kami menginap menuju ke jalan raya dan naiklah kendaraan transportasi bernama thuk- thuk dan di-wanti-wanti untuk membayar sebesar 10 Baht per orang pada sopir thuk-thuk nya.

Nah saya coba jelaskan sedikit mengenai akses transportasi dari thuk-thuk di Pattaya ini. Jadi kendaraan Thuk-thuk ini adalah kendaraan umum yang terus berputar-putar pada areal sekitar pantai Pattaya ini. Dengan rute perjalanan satu arah,

Maka dari areal hotel kami (yang saya lingkari pada peta di bawah), maka Night Street nggal naik thuk-thuk dan mengarah ke arah kiri. Night Street berada di ujung dari jalan Pattaya Beach sebelum berbelok.

Jangan khawatir Anda tidak akan salah karena terdapat sebuah gerbang begitu besar dengan tulisan Night Street.

Begitu masuk melalui gerbang dari Walking Street, saya sangat haus dan tertarik dengan kelapa hijau yang dijual di pinggir jalan, maka saya membeli dua buah kelapa hijau dengan harga 100 baht per satu kelapa. Memang agak mahal, maklum areal premium pattaya. Namun ketika kami meminumnya, terasa kesegaran kelapa mudanya di samping kami haus dan lapar juga sih pada saat itu.

Sebelum Anda memasukkan daftar Pattaya Walking Street sebagai area tujuan kunjungan Anda di Pattttaya, maka ada baiknya saya membahas lebih jauh untuk kawasan ini. Walking Street adalah kawasan red light district di Pattaya. Jadi bila Anda bepergian dengan anak-anak, maka areal ini dak bisa Anda masukkan sebagai daftar untuk kunjungan.

Sesuai dengan namanya Walking Street yang berarti jalan, bahwa di sepanjang jalan ini pada malam hari mulai dari jam enam sore sampai jam dua pagi, di sepanjang jalan ini akan buka aneka hiburan malam seper bar dan rumah bordil.

Segala jenis atraksi aneh dan berbau pornografi dapat kita lihat di sini. Namun area ini juga terdapat aneka jajanan kuliner ekstrem seperti kalajengking dan kelabang yang dijadikan santapan. Ada juga beberapa rumah makan seafood di sepanjang jalan ini.

Meskipun daerah red light district, areal ini cukup aman. Anda akan menemukan banyak sekali petugas keamanan berlalu-lalang di sepanjang jalan ini. Kami hanya melihat-lihat sebentar sekaligus mengabadikan gambar di sepanjang jalan ini karena penasaran dengan terkenalnya area Pattaya yang satu ini.

Bila Anda ingin melihat atraksi di dalam salah satu tempat, dari membaca beberapa informasi, berhati-hati lah karena harga yang jadi melambung tinggi ataupun penipuan. Tips paling aman apabila Anda dak memiliki teman maupun yang lebih berpengalaman adalah cobalah banyak bertanya pada tempat Anda menginap karena Anda akan banyak mendapatkan bantuan dari mereka.

Inilah beberapa dokumentasi dari sepanjang jalan Pattaya Walking Street.

Jam sudah menunjukkan pukul 23.30 ke ka kami keluar dari Walking Street, semula kami ingin makan di salah satu restoran seafood di area tersebut. Namun melihat harganya yang agaknya premium dan suasana yang kurang nyaman, maka kami ke- luar dari area tersebut dan kembali mencoba mencari tempat kami bisa menuntaskan makan yang terlarut malam ini.

Kami memutuskan untuk kembali menggunakan thuk-thuk untuk mengelilingi areal tersebut. Prinsip dasar dari thuk-thuk ini adalah berkeliling. Jadi bila kita ikut naik thuk-thuk ini, maka pas nya kami akan kembali turun di depan hotel kami menginap. Harapan kami adalah kami bisa mendapatkan areal tempat makan lain di luar Walking Street yang lebih menarik hati, hehehe… Karena Ryan melihat sebelum sampai di hotel ada area tempat makan seafood yang menarik untuk dicoba.

Baru setengah perjalanan kami menumpang thuk-thuk, kami melihat di sisi kiri jalan ada beberapa makanan tenda yang tampaknya menarik. Maka kami memencet bel pada thuk-thuk dan menepilah kendaraan tumpangan kami.

Kira-kira di sinilah lokasinya atau Anda bisa mencari lokasi tempat makan kami di depan Grand SoleHotel ini linknya http://bit.ly/bVG501.

Nama tempat makan tenda yang kami datangi adalah Khwanjai Seafood. Meski di sebelahnya terdapat tempat makan juga, namun dari apa yang kami lihat seafood di tempat ini lebih segar pada saat itu sehingga kami memutuskan untuk makan malam di sini. Masuk ke tenda yang semi permanen, kami duduk dan diberikan buku menu. Begitu kami buka menunya, maka kami mulai bingung dalam memilih menu, karena semuanya bertuliskan bahasa Thai tanpa ada bahasa Inggris.

Di tengah kebingungan kami memesan makanan, karena yang melayani kami juga dak memiliki kemampuan bahasa Inggris, datanglah si pemilik yang bisa berbahasa Inggris. Legalah ha kami karena kami dapat memesan makanan yang sesuai harapan kami. Selesai memesan makanan, pemilik bertanya dari manakah kami berasal, dan kami katakan dari Indonesia. Si Pemilik tersebut mulai berbahasa Indonesia! Semula beliau mengira kami dari Korea, sebab katanya wajah saya seperti orang Korea, hihihi… Padahal muka kami sudah sangat kucel karena sudah keluar dari pagi hari…

Sambil menunggu makanan, kami berbincang-bicang mengenai Thailand, Indonesia, dan tentunya Pattaya. Hal yang menakjubkan si pria pemilik restoran ini belajar beberapa bahasa hanya menggunakan kamus!

Tidak berapa lama kami menunggu makan malam kami yang sudah larut malam karena hampir jam 12 itu pun datang, wow aromanya sungguh menggoda. Ditambah efek kami lapar karena sudah dak makan dari jam makan siang membuat kesan yang mendalam di restoran seafood ini, Hehehe…

Dan inilah makan malam kami!

Kami memesan ganti menu, yaitu nasi goreng, ikan krapu yang dimasak dengan nama Thai thai sea- food brown marbled grouper fried with garlic atau ปลาเกา๋ ทอดกระเทยี ม,dansayurkangkung.Nasi goreng yang terlihat sederhana rupanya di lidah kami rasanya sangat unik. Tidak bisa kami katakan seper nasi tom yum yang ada di Mangga Dua (Tom Yum Mama Kitchen). Nasi goreng yang ini rasanya ada sedikit rasa tom yum, asam jeruknya juga terasa, wangi, dan gurih rempah-rempahnya pun juga meninggalkan rasa khas di mulut. Pokoknya yummy… Apalagi kalau dimakan malam-malam dengan suami tercinta. Suasananya pas untuk makan malam, bersantai di temani hembusan angin yang adem.

Selanjutnya adalah ikan krapu yang dimasak dengan sayuran yang digoreng renyah. Rasanya begitu lezat, daging ikannya digoreng dulu sampai garing. Tidak terasa amisnya sama sekali. Lalu sayuran hijaunya yang dilumuri di atas ikan, rasanya sangat garing sekali seper keripik bayam. Ryan yang dak begitu suka sayuran pun, sangat lahap memakan- nya. Rasanya yang khas dan aromanya yang wangi membuat makin nikmat. Saya begitu menikmatinya, karena selain harganya murah, rasanya sangat pas. Di Indonesia kalau ikan seper ini bisa sekitar 200 sampai 300 ribuan, misalnya di salah satu restoran di PIK (Pantai Indah Kapuk), Ying Thai. Wah dua jenis makanan saja sudah enak nih, bagaimana dengan kangkungnya? Rasa cah kangkungnya asam pedas, dan mirip dengan kangkung Sukabumi. Batangnya besar-besar, Ryan dak begitu suka jika kangkung besar-besar seper ini. Dia asyik menghabiskan ikan dan nasi gorengnya.

Dengan tiga menu ini kami sangat puas sekali dapat menyantap makan malam dengan masakan ikan yang begitu segar di sejuknya malam kota Pattaya. Makan malam di tempat ini dengan tiga menu tersebut seharga 500 Baht merupakan harga yang pantas dengan kenikmatan rasanya. Sayang kami hanya semalam di Pattaya, kalau dua malam sudah pas kami akan balik makan di tempat ini lagi dan mencoba menu lainnya. Karena jarak hotel dan tempat kami makan malam dak terlalu jauh dan untuk menurunkan makanan karena sudah terlalu larut malam kami makan, maka kami memutuskan untuk kembali ke hotel dengan berjalan kaki perlahan-lahan sambil mengobrol.

Sebuah perjalanan yang romantis sebagi kami menyusuri jalanan yang sepi dan melewa gang menuju kembali ke hotel kami dengan cuaca yang cerah.Wah… sungguh ingin pergi lagiii.

Perjalanan kami menuju hotel kurang lebih hanya sekitar sepuluh menit dan kami se banya di kamar segera mandi dan bersiap untuk berisitrahat untuk kembali jalan-jalan melihat beberapa tempat khas dari kota Pattaya.

Sampai bertemu di jalan-jalan hari kedua di kota Pattaya di bab selanjutnya yaaa!