CADAS GANTUNG by Dila Oktaviani

0
522

Saat itu aku dan kawan-kawanku barusaja tiba di kota Kuningan-Jawa Barat, setelah menyelesaikan waktu PKL di daerah yang berbeda dan kebanyakan di diantara kami di daerah Cikarang.

Sekolah kami saat itu sangat sibuk dengan acara perpisahan kakak kelas kami dan pelajaran sekolah di bebaskan saat itu. Semua mata tertuju pada aktivitas itu namun kami berinisiatif keluar dari zona memusingkan itu. Kami berada di satu ekstrakuler yang sama dan dalam ikatan hati yang sama. Saya yag diberikan kepercayaan oleh pembina kami ektrakulikuler yang kami sebut E.Com. Kita panggil beliau Mr. Didit, umurnya masih muda dan beda berapa tahun saja dengan kita jadi tidak seperti guru tapi seperti kakak kita. Saya dan Imas meminta di izinkan saat itu dan setengah memaksa. Agar di izinkan kami mengajaknya agar ada yang mengawasi beliau orangnya seperti kita dia suka treveling.

Aku orang yang suka dengan sesuatu hal yang baru dan menantang. Aku mencoba membujuknya berkali-kali tapi hasilnya tetap sama. Akhirnya kami tetap memutuskan untuk pergi karena ia masih beralasan “ jangan hari ini saya sedang sibuk” dengan wajah kocaknya. Tanpa peretujuannya kami tetap memaksakan untuk berangkat di antara kami hanya satu orang saja yang pernah ke tempat itu dengan berbekal pengalamanya ke Cadas Gantung itulah kami berangkat. Sebelumnya temanku Ilham telah berbicara bahwa harus hati-hati karena perjalanan sungguh berbahaya walaupun memang ada akses jalan untuk motor.

Perjalannan menuju tempat itu cukup jauh namun dengan perbekalan baju ganti di rumahku dan minum di tas kami kami berangkat. Ternyata perjalanan cukup jauh dari lokasi kami, tepat di belokan terakhir menuju wilayah itu akses jalan mulai menyempit dan bergelombang bukan karena polisi tidur yang di buat tapi memang banyak jalan yang di buat oleh warga hanya dengan menancapkan batu-batu besar dan tajam, batu besar dan runcing itu sengaja di pakai agar kendaraan tidak terjatuh karena jalana yang menanjak dan berkelok sebelum ssampai di pintu gerbang menuju lokasi.

Setelah beberapa menit berlalu dengan tantangan yang menyulitkan sungguh kami merasa lelah namun setelah jalan tadi kita menemukan desa kecil di bawah kaki bukit itu desa yang teramat kecil, hanya terlihat beberapa rumah saja dan satu musola kecil kami singgah dan solat dzuhur di sana. Hawatir kita akan kelamaan untuk sampai di puncak, kami bergegas menaiki bukit dengan melewati jalan setapak menuju bukit itu dengan penuh semak namun udara bersih dapat dengan mudahnya kami hirup. Diperjalanan kami mulai menemukan pos yang di jaga oleh warga saat memasuki lokasi itu. Kami terlebih dahulu meminta izin kepada warga yang berada di situ dan kami melanjutkan perjalanan kukira membutuhkan waktu 1 setengah jam untuk sampai puncak. Saat di perjalanan kami menemukan banyak tumbuhan yang belum kami lihat dan memang di samping kiri saya masih ada lahan petani yang di tanam palawija di atas situ. Kami melewati pohon besa berakar, dun pinus yang berjatuhan dan dua sumber mata air yang menyegarkan. Tadinya kami ingin beristirahat sebentar di sana namun kami sangat penasaran dengan apa yang di sebut Cadas Gantung oleh warga setempat tersebut. Memang belum banyak orang yang mengenal tempat Cadas Gantung ini jadi masih terbilang sangat sepi bagi orang yang mendatangi lokasi ini.

Kami menemukan air terjun kecil di bawah kaki pohon besar yang mengalir dari atas sana kemudian kami melewati dengan berpikir lokasinya tinggal beberapa lagi ternyata masih 1,5 KM jarak menuju puncak tersebut. Akhirnya kami sampai, subahanallah sungguh alam yang teramat luar biasa yang pernah aku lihat. Kami seperti tiba di padang sapana yang begitu luasnya dengan di kelilingi bulit-bukit yang menjulang tinggi tampak menyembunyikan lokasi ini. di bagian belahan lain ada pohon-pohon kecil berakar kuat yang begitu indah.

Kemudian teman saya Ilham berkata saat itu “ waktu itu aku menemukan air terjun namanya air terjun walet tapi saya lupa di mana arahnya” akhirnya kami kembali beraksi menuruni tempat itu tepat ke arah belakang bagian bukit ini mengalir dan terdengar deras suara gemercik air yang sangat jelas terdengar di telinga karena kami penasaran aku bergegas turun dan kami temukan lokasi itu. Saat itu kami hawatir basah baju kami tapi kami memaksa turun ke arah air terjun itu kami turun lalu aga berenang basah-basahan ke arah itu. Saat itu kami sangat senang sekali namun kami tidak bisa lebih dekat di bawah air terjun itu karena terlalu dalam dan hawatir terjadi sesuatu. Mitosnya ketika ke tepat air terjun jangan sampai di bawah air terjun bayak mitos ketika berada di bawah air terjun langsung maka ketika tenggelam tidak ada yang dapat muncul kembali.

Namun langit semakin gelap kami hawatir akan turun hujan besar lama kelamaan air hujan menetes dari langit. Beberapa menit kemudian walaupun basah kuyub dan tergesa-gesah kembali hujan tidak turun deras dan langit reda tanpa air hujan. Di atas sana kami seperti lepas dengan semua penat setelah PKL dan acara padat di sekolah. Banyak kerbau yang di biarkan  berlarian saat itu, kami berusaha berfoto dengan kerbau itu sayang fotonya terhapus. Kami istirahat sebentar di kursi-kursi kecil yang sengaja di buat oleh warga kaki bukit dan ada satu warung yang sengaja di buat untuk beristirahat. Kami saat itu memesan mie gelas dengan suasana langit kembali mendung dan turun hujan rintik. Saat hujan rintik-rintik kami bergegas menghabiskan mie gelas itu dna bergegas setengah berlari menuruni bukit kami saling tolong menolong saat turun dari atas karena jalan mulai licin hujan juga semakin deras.

Tak lama kami sampai di bawah dan berteduh di musola kecil tempat kami solat dzuhur sambil menunggu hujan reda. Kami melangkahkan kaki menuju tempat motr yang kami kendarai untuk menuju tempat ini. dan kami berdiri menatap langit yng kembali cerah di jalan turunan itu dan kami duduk sebentar menatap langit sore yang akan kembali hilang dan berganti hari. Aku sangat memimpikan hari-hari penuh denganpetualangan itu kembali dengan penuh semangat dan riang gembira untungnya kami tidak menghilangkan kesempatan untuk basah-basahan di bawah guyuran air terjun. Kami tutup hari itu dengan senyuman teramat indah. Rencana menuju tempat lainnya kami harapkan terlaksana namun tetap setelah hari itu rencana perjalanan kami tertunda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here